Labels

Head Line News

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sejarah Generasi Pemerintahan Indonesia

Written By Qassam Corporation on Sabtu, 19 Januari 2013 | 07.35



KULWIT  Ade Ibnu Utami, Ka. Bappilu DPW PKS Lampung
1.Semoga catatan kecil ini bermanfaat utk generasi baru yang sedang dipersiapkan sejarah Indonesia
2. Usia alami manusia dapat capai 120 tahun. Ibnu Khaldun menyimpulkan bahwa pemerintahan suatu kerajaan miliki usia alami layaknya manusia.
3. Pemerintahan biasanya tidak melebihi dari usia 3 generasi. Artinya 40 tahun sebuah pemerintahan dihitung 1 generasi
4. Generasi pertama memiliki karakter keras, pemberani, menikmati kebesaran dl kebersamaan fanatisme (nasionalisme)
5. Generasi kedua telah mengalami perubahan kondisi mengelola kekuasaan dan kekayaan, berperadaban, makmur, mewah dan individual
6. Generasi ketiga, mereka kehilangan kehormatan dan fanatisme. Gaya hidup mewah, senang mengelabui masy dg pangkat dan seragam yg dikenakan
7. Menurut Ibnu Khaldun, setelah generasi ketiga itulah kehancuran total sebuah kerajaan.
8. Apakah siklus 120 tahun itu bisa kita pakai utk analisa Indonesia? Menurut saya sangat bisa.
9. Mari kita hitung siklus ini di negara yg kita cinta Indonesia. Dg mengambil momentum kebangkitan nasional 1908 sbg permulaan siklus ini.
10. Generasi pertama negara ini berada pd masa 1908--1948. Pd masa ini para pendiri negara berkarakter: keras, pemberani dan nasionalis.
11.Tokoh2 pd generasi ini tentunya lahir dari perihnya penjajahan. Wahidin lahir 1852, Dr. Soetomo 1888, Soekarno (1901), Hatta (1902) dll
12. Berikutnya generasi kedua negara ini berada pada masa 1949--1989
13. Pada 40 tahun kedua, Negara ini mulai dikelola kekuasaan dan kekayaannya, berperadaban, makmur, mewah dan mulai individual.
14. Soekarno sbg presiden pertama memainkan peran sejarahnya. Tentu dg segenap plus minusnya. Dilanjutkan Soeharto melalui "kudetanya"
15. Pd generasi ini catatan peradaban Indonesia dimulai. Prestasi demi prestasi dicatat. Indonesia menjadi negara dan bangsa yg disegani!
16. Pd generasi ini jg swasembada beras diakui dunia (1984). Prestasi olah raga sbg jawara asia tenggara. Indonesia adalah macan asia. Gagah
17. Catat: tokoh2 pengelola negara masa ini adlh mereka yg mngecap heroisme perjuangan. Soeharto (1921, Adam Malik (1917), Alamsyah (1925)
18. Sedangkan generasi ketiga 1990--2030. Sekarang 2013, masih tersisa 17 tahun lg.
19. Karakter generasi ketiga sangat nyata. Kehilangan kehormatan dan nasionalisme, bermewahan dan memperkaya diri, senang mengelabui rakyat.
20. 1989-1994 adalah PELITA V OrBa. 1 pelita lg tahap lepas landas dl terminologi ORBA. inilah titik puncak sekaligus titik baliknya.
21. Ini prestasi th 1994 pendapatan perkapita Indonesia US 800$, sebelumnya hanya US 70$ th 1969.
22. Meningkatnya pendapatan perkapita ternyata menyimpan bom waktu yaitu ketimpangan sosial. kata bang haji: yang kaya makin kaya yang...dst
23. Pd kurun ini pula penyakit KKN menggurita: korupsi, kolusi dan nepotisme. Kemudian mendorong Reformasi 1998 dimotori mhsiswa. Hidup mhs!
24. Catat: tokoh2 pngella ngra sbl reformasi adl mrk yg masih kanak2 pd gnrs pertama. Harmoko (1939), Tungky ari w (1936), bob hasan (1931)
25. Catat juga: pd masa itu sdh mulai masuk tokoh yg tdk mengecap hroisme 45. Sprt Akbar Tanjung (menpora 88-93) lahir stlh merdeka 30/8/45
26. Setelah reformasi dg segudang harapannya. 1998-2013 ternyata semakin mempertegas karakter generasi ketiga negara ini.
27. Pengelola negara makin kehilangan kehormatan, kehilangan nasionalisme, makin bermewah2an dan makin senang mengelabui rakyat
28. Cont: di luar segudang prestasi pa Habibie, pada kepemimpinan beliau prop Timor Timur lepas dari NKRI. 19 Okt 1999! Sedih
29. Begitupun pasca reformasi. Masy disuguhi tontonan yg sangat memprihatinkan. Pemerintah hanya sibuk pertahankan kekuasaan.
30. Jabatan yg diembannya hanya utk memperkaya diri dan kelmpoknya. Pjbat sibuk dg kemewahan gratifikasi. Masy dikelabui dg citraa dan janji
31. Fakta: 1999 Indonesia negara terkorup ketiga setelah Nigeria dan Kamerun. Bgtpun th 2009 masih masuk terkorup.
32. Padahal saya masih ingat yg kita tuntut dl reformasi salah satunya adalah Hapuskan KKN: korupsi, kolusi dan nepotisme! Sedih banget ini


33. Catat fakta ini: Pemerintah yg didukung karena "katakan TIDAK pada KORUPSI" dl kampanyenya. Justru sekarang terbelit urusan2 korupsi.
34. Catat: ternyata tokoh2 penglola ngara gnersi ke3 ini adl mereka yg sudah tdk mersakn heroisme 45. Gusdur (1940), Mega (1947), SBY (1949)
35. Catat juga nih: tokoh2 lainnya yg terlibat mengelola negara Agung laksono (1949), Hatta R (1959) dan jangan lupa Andi Malarangeng (1963)
36. 40 tahun ketiga ini (1990-2030) masih menyisakan 17 tahun lg. Berarti Indonesia msih mungkn dikelola dg krkter generasi ketiga. Waspada!
37. Bagaimana mengolah siklus ini? Tunggu kultwit berikutnya. Lawan!
38. Udah pegel. Dan mau blusukan ke daerah nun jauh disana. Hehehe

Inilah Pengorbanan itu...

Written By Qassam Corporation on Sabtu, 17 November 2012 | 04.36

Oleh     :  Imam Maulana, S.T *)

    Salah satu momentum penting yang hadir di bulan November ini adalah peringatan Hari Pahlawan. Tentunya bukan hanya sekedar sebuah seremonial, akan tetapi bagaimana proses pewarisan dan meng-internalisasikan nilai kepada  pewaris peradaban ini. Salah satu nilai kepahlawanan yang akan selalu dan pasti akan kita jumpai dalam perjalanan seorang ‘pahlawan’ atau orang-orang besar yang pernah hadir  dalam sejarah atau dalam kajian-kajian tentang kepahlawanan adalah tentang sebuah Pengorbanan (At tadhiyah).
    Yang dimaksudkan dengan At tadhiyah menurut Hasan al Banna adalah “ Badzlannafsi, wal maali, wal waqti, wal hayati wa kulla syaiin fiy sabiilil ghoyah”..Mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan dan segala-galanya demi mencapai tujuan. Inilah semangat yang harus di tanamkan kepada seluruh kader dakwah agar dakwah ini bisa terus berjalan, agama ini mendapatkan kemenangan dan jihad dapat terus berjalan. Tetapi mungkin menjadi sebuah perenungan bagi kita para da’i, betapa masih sangat minimnya pengorbanan yang kita berikan untuk da’wah illalloh ini. Waktu kita habis untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, bahkan terkadang waktu untuk tilawah qur’an kita tidak lebih banyak dari waktu yang kita habiskan untuk melihat dan memperbaharui status di jejaring sosial, infaq yang kita berikan terkadang tidak lebih besar dari harga sepatu yang kita kenakan, kita belum bisa memberikan kemanfaatan yang lebih kepada konstituen dan masyarakat. Berada pada level apapun kita, terus kita tingkatkan kapasitas dan kualitas diri kita agar kemampuan ‘berkorban’ kita menjadi semakin besar. Bagi kita yang di struktur bagaimana syuro’-syuro’ kita menghasilkan program-program yang aplikatif dan memberi kemanfaatan bagi masyarakat, bagi yang tidak di struktur bagimana kita giat merekrut dan membina masyarakat kita..hatta yaltafuna haulakum...agar mereka berada di sekeliling kita..bagi anggota legislatif atau pejabat publik lainnya agar lebih sering menjenguk konstituen dan mulai membangun simpul-simpul masa bukan hanya tebar pesona di media massa.
    Walau demikian kita berharap betapapun kecil pengorbanan yang kita berikan akan bisa memberi pengaruh bagi masyarakat dan objek dakwah kita. Tidak hanya diri dan keluarga, tetapi masyarakat kita ajarkan juga tentang nilai dan semangat pengorbanan. Kalaulah 891.374  orang penduduk kota Bandar Lampung (BPS,2011) mengorbankan Rp.1000,-/bulan dari hartanya maka akan terkumpul dana Rp. 891.374.000,-. Dalam setahun bisa terkumpul dana sebesar 10,6 Milyar, hampir menyamai Dana Insetif Daerah kota Bandar Lampung. Dana sebesar itu bisa untuk membangun 715 rumah bagi keluarga miskin sebesar 15 juta per rumahnya. Bukankah 1000 rupiah terkadang dianggap tidak ada artinya di rumah kita ? Inilah tantangan bagaimana kita mampu meng-kapitalisasi pengorbanan-pengorbanan yang kecil dan tersebar itu agar bisa menghasilkan sesuatu yang besar.
    “ Walaisa fiddunya jihaadun, laa tadhiyata ma’ah”...Tidak ada perjuangan di dunia ini yang tidak disertai dengan pengorbanan. Bahkan Bung Haji Rhoma Irama pun menulis dalam syairnya ‘pengorbanan sebagai syarat dalam perjuangan’. Oleh karenanya persiapkan segala sesuatunya dengan matang, Sediakan diri kita, harta, waktu pekerjaan dan semua yang kita miliki untuk memperjuangkannya. Jika pengorbanan yang kita lakukan mendapat pahala yang besar, tentunya ketidak peduliaan dan berdiam diri kita dari pengorbanan akan mendapatkan dosa.
Ada seorang kader dakwah dari kalangan petani. Ia telah mendaftarkan diri sebagai relawan ke Palestina. Bahkan, ia telah menjual kerbaunya untuk dibelikan senjata agar bisa digunakan untuk perang di Palestina. Kemudian ditanyakan kepadanya,” ya akhi, biarkanlah kerbau itu untuk keluargamu. Cukuplah bagimu untuk mendaftarkan diri sebagai relawan.” Dengan keluguannya, si petani menjawab,” Apakah Alloh hanya akan membeli jiwa kita saja, atau jiwa dan harta sekaligus untuk ditukarkan dengan surga? “...Sesungguhnya, Alloh telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (QS.At Taubah,9: 111)
Inilah salah satu sebab kenapa orang-orang besar itu di catatkan namanya dalam sejarah, karena memang mereka memiliki pengorbanan yang lebih besar dan lebih banyak dibandingkan orang lain pada umumnya. Tentunya bagi kita adalah pengorbanan yang ikhlas yang tidak pernah mengharap balasan kecuali keridhoan Alloh. Walau sejarah mungkin tak pernah mencatat nama kita tapi sungguh Alloh, rosulNya dan orang-orang beriman akan menjadi saksi atas pengorbanan kita di jalan da’wah ini. Inilah pengorbanan yang di minta dari kita semua. Wallohu’alam bishowab

*)  Kader DPC PKS Sukarame,

Keikhlasan Dalam Berdakwah

Written By Qassam Corporation on Jumat, 02 November 2012 | 05.59

Oleh :     Syarif Hidayat
Ketua DPD PKS Kota Bandar Lampung

Bangsa ini kian hari kian menunjukkan kondisi yang tidak ideal. Peristiwa kriminal terus terjadi dan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Korupsi dilakukan oleh orang-orang mulai dari pegawai tingkat rendahan sampai para pejabat negara. Kasus cabul dan pornografi adalah biasa.
Islam yang ajarannya mulia diacak-acak menjadi liberal dan hambar seperti bukan Islam lagi, atau sebaliknya, menjadi radikal dan malah merusak citra islam itu sendiri. Bencana semakin kerap terjadi, seperti  Allah hendak memberi peringatan keras, atau bahkan adzab atas sesuatu yang harus segera kita sadari.

Bukankah jumlah da’i akhir-akhir ini makin banyak? Bukankah jumlah ustadz, ulama, kyai, muballigh, hafidz qur’an, makin melimpah? Artinya, dengan demikian melimpahnya juru da’wah, bukankah seharusnya ummat ini makin baik dan akhlak bangsa makin terpuji?
Bukankah kini dakwah sudah dilakukan di mana-mana: di TV, radio, internet, koran, majalah, ribuan judul buku, bahkan panggung politik? Bukankah metode dakwah kian bervariasi untuk mengembangkan ‘titik sentuh’ yang makin beragam: tabligh akbar, taklim rutin, halaqah, dakwah lewat nasyid, artikel ilmiah, training kecerdasan spiritual, pelatihan salat khusyu’, dzikir berjamaah, bahkan sms dakwah?

Jangan-jangan, itu disebabkan oleh banyaknya juru dakwah yang TIDAK IKHLAS menjalankan misinya. Mungkin sekarang ini jumlah da’i memang banyak daripada jaman dulu, tetapi mereka yang benar-benar ikhlas berdakwah lebih sedikit dibandingkan jaman dulu.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus,  dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

Ikhlas adalah memurnikan ketaatan kita kepada Allah, semata mengharap Ridha dari-Nya. Amalan ikhlas berarti amalan yang kita lakukan tanpa pamrih, tanpa maksud mencari keuntungan pribadi atau golongan, tanpa tendensi dan maksud tersembunyi. Ikhlas dalam beramal berarti tidak menuntut imbalan, kecuali  hanya berharap Allah memberikan balasan terbaik dari apa yang kita lakukan.

Ikhlas berdakwah berarti tidak menghitung-hitung hasil dakwah kita dengan segala bentuk imbalan duniawi: materi, pengaruh, nama besar, popularitas, dukungan massa, dan sebagainya. Dari dakwah yang ikhlas, kita hanya boleh berharap Allah melimpahkan hidayah kepada ummat yang kita dakwahi, melalui ikhtiar optimal yang kita lakukan. Kita hanya boleh berharap mereka  yang kita dakwahi menjadi orang-orang berkepribadian islami, dan turut bersama-sama memperjuangkan kalimat Allah.

Sejatinya, inilah yang harus kita sadari. Sesungguhnya segala yang kita lakukan dalam perjuangan dengan segala macam bentuk pengorbanannya adalah sesuatu  kebaikan yang kita lakukan untuk diri kita sendiri dan itu merupakan Hidayah terindah yang Allah berikan kepada kita. Sebab, setiap kita pada akhirnya, hanya akan memperoleh apa yang kita lakukan di dunia. “Dan seseorang tidak akan memperoleh selain dari apa yang telah dia usahakan.” Iman, hijrah, jihad dengan harta dan jiwa, itulah yang akan menghantarkan kita menjadi orang yang sukses sejati, sebagaimana yang Allah jelaskan: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (At-Taubah: 20).
Dengan kesadaran seperti inilah, diharapkan senantiasa hadir sikap keikhlasan dari jiwa – jiwa pejuang Islam, sikap yang akan mengantarkan mereka memperoleh apa yang menjadi harapan setiap pribadi muslim yaitu  keridlaan Allah SWT. Allahu ’Alam.



Puasa Korupsi

Written By Qassam Corporation on Sabtu, 21 Juli 2012 | 01.24


Oleh    Syarif Hidayat
            Ketua DPD PKS Kota Bandar Lampung


Puasa disyariatkan dalam Islam pada tahun 625 M/3 H, setelah umat Islam dibawah pimpinan Rasulullah saw, hijrah ke Medinah dan melalukan peperangan melawan kafir Quraisy Mekah di medan perang Badar dan Uhud. Kedua perang yang terkenal dahsyat dan banjir darah itu, oleh Rasulullah saw, disebut sebagai peperangan dalam skala kecil. ”Raja’na minal jihadil asghari ilal jihadil akbar” –kita baru saja pulang dari perang kecil menuju perang yang lebih besar, sabda Rasulullah saw di hadapan sahabatnya.

Sahabat kaget mendengar ucapan Rasul, lalu bertanya: “Masih adakah perang yang lebih besar dari perang yang banjir darah, ya Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab: “Naam, jihadi al akbar, jihad al nafs”, --sesungguhnya perang besar itu ialah perang melawan diri sendiri.

Pernyataan tegas rasulullah saw, yang dikutip dalam uraian tersebut di atas mengisyarakatkan bahwa lawan besar yang dihadapi setiap manusia ialah melawan diri sendiri. Siapa yang mampu mengendalikan dirinya sendiri, dalam berbagai hal, itulah sesungguhnya sosok manusia yang meraih kemenangan. Seseorang yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan dirinya sendiri, ia juga memiliki kemampuan yang efektif untuk mengendalikan orang lain.

Secara substansial, proses ritual berpuasa seharusnya bermuara pada produk manusia yang bertakwa (QS 2: 183). Indikasi orang bertakwa, menurut Nurcholish Madjid, adalah memercayai kegaiban, mendirikan shalat, dan mengeluarkan atau memberikan sebagian hartanya (QS 2: 2-4). Ketiganya adalah ibadah yang memiliki kesatuan yang kuat, integrated, yang tidak bisa dilepaskan begitu saja antara yang satu dengan yang lain. Inti pesan-pesan ajaran Islam memberikan perhatian yang serius terhadap masalah kemanusiaan atau sosial.
Tetapi, lagi-lagi kita selalu terjerembab pada prosesi atau ritual puasa belaka, tanpa mampu menangkap pesan moral puasa yang kita jalani. Ketika kita melalukan korupsi berarti menolak keimanan terhadap yang gaib (baca: Tuhan). Korupsi dengan kehati-hatian yang ekstra sekali pun tetap Tuhan tanpa berkedip menelanjangi kita. Ketika kita melakukan korupsi berarti shalat kita hanyalah sebuah tarian yang hampa tanpa makna. Bukankah shalat seharusnya dapat mencegah kekejian dan kemungkaran? (QS 29: 45).
Kita sudah terbiasa memahami agama tidak secara terintegrasi, itulah sebabnya, Muhammad Saw sudah mengingatkan kita bahwa, banyak sekali orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Tidak adanya pemahaman yang komprehensif terhadap ajaran agama, kemungkinan sebagai sebab terjadinya tindakan korupsi. Ajaran agama tidak merefleksikan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan moral puasa (baca: dalam konteks korupsi) yang utama adalah kita dilarang memakan makanan yang haram. Jangan jadikan perut Anda sebagai kuburan orang lain. Jangan jadikan perut Anda sebagai kuburan rakyat kecil. Jangan pindahkan tanah dan ladang milik mereka ke perut Anda. Pesan moral ini masih sangat relevan dengan kondisi saat ini, ketika kita menjadi konsumtif, atau bahkan untuk menaikkan status sosial, kita tidak jarang berani memakan hak orang lain. Kita sering menjadi omnivora tanpa memperhatikan halal dan haram (Jalaluddin Rakhmat, 2008).
Mengapa manusia terjerumus ke lembah kemaksiatan yang mengakibatkan dirinya terhina? Secara empiri menunjukkan, terjerumusnya manusia ke lembah kehinaan, disebabkan oleh ketidakmampuannya mengendalikan dan mengalahkan nafsunya sendiri sebagai musuh utama manusia dalam melakoni kehidupan mereka di bumi ini, yang disebut nafsu syahwat. Nafsu syahwat tersebut bertengger di dua tempat, yaitu perut dan bawah perut (faraj).

Perut adalah simbol tempat memenuhi segala kebutuhan materi. Karena dengan terpenuhinya kebutuhan perut manusia bertahan untuk menyambung hidupnya; bahkan demi hidup, ada saja di antara anak manusia menjual dirinya menjadi PSK (Pekerja Seks Komersial) misalnya, lantaran kebutuhan perut. Seorang oknum pejabat misalnya, melakukan korupsi uang negara, karena desakan perut untuk segera menjadi kaya raya. Menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan yang dimilikinya untuk meraih keuntungan berupa fulus juga tidak terlepas dari ketidakmampuannya mengendalikan diri dari syahwat memperoleh keuntungan yang banyak.

Rasulullah saw, dalam salah satu hadis menyatakan bahwa: “… perut manusia ukurannya sangat kecil dan pendek, akan tetapi luasnya melebihi luasnya tujuh lautan yang ada di dunia ini. Dan seorang anak manusia, baru berhenti untuk berusaha memenuhi kebutuhan perutnya, setelah perutnya diisi dengan tanah. Bukankah upaya memenuhi kebutuhan perut sebagai pertanda masih ada kehidupan? Benar! Namun yang diajarkan oleh Islam, penuhilah kebutuhan itu, dengan mengikuti petunjuk Alquran dan al-sunnah. Materi sangat dibutuhkan dalam konteks ajaran Islam, tetapi jangan diperbudak oleh materi.

Karena itu, jika umat Islam dan pemerintah bersungguh-sungguh untuk memberantas tindak kejahatan berupa korupsi, bulan Ramadan ini adalah momen yang sangat strategis untuk melawan dan mengalahkan tindak kejahatan yang disebut korupsi! Sebab, ibadah puasa yang disyariatkan kepada umat Islam, bertujuan untuk mengendalikan kedua sumber nafsu tersebut.
Dengan puasa, dapat menjadi momentum untuk menahan diri dari perbuatan dosa, perbuatan korupsi, dan perbuatan lain yang dilarang dalam islam. Tentunya dibulan puasa ini kita harus mampu menahan apa yang kita miliki, dari terbit fajar dan terbenamnya matahari.
Orang yang serius memaknai puasa dan melaksanakan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi larangan Allah SWT, akan mendapatkan pengampunan dosa. Dengan catatan dosa yang telah diperbuat, tidak lagi diperbuat setelah bulan ramadhan berakhir. Ini harus kita perhatikan. Jangan sampai di bulan setelah ramadhan, kita kembali melakukan dosa. Ramadhan harus berbekas dalam setiap kehidupan kita.

Jangan sampai manusia dibelenggu hawa dan nafsu. Manusia harus bisa mengendalikan hawa nafsu. Nafsu yang tidak pernah puas dan hawa yang tidak kunjung ke lintasan, jangan sampai membelenggu kehidupan sehari-hari. Jadilah manusia yang puas, sehingga tidak mengambil hak orang lain untuk melakukan korupsi, Wallahu’alam.



Meniti Ramadan di Sya’ban

Written By Qassam Corporation on Rabu, 11 Juli 2012 | 09.47


Oleh  Agus Djumadi (Sekretaris Umum DPD PKS Kota Bandarlampung)

Gema Ramadan mulai terdengar saat Syaban kita masuki. Saat ini, tinggal hitungan pekan bulan penuh maghfirah itu menemani waktu ibadah kita. Jika Rajab diwarnai dengan semangat mempersiapkan diri dengan amalan menyambut Ramadan, Sya’ban adalah bulan keistiqomahan. Sejauh mana kita tetap konsisten menjalankan amalan tersebut di tengah-tengah suasana yang kurang kondusif.

    ALLAH SWT tentunya punya maksud menganugerahkan Sya’ban ada di antara Rajab dan Ramadan. Selain janji Allah akan pahala berlipat di bulan itu, juga teramat paham dengan kecenderungan manusia untuk lalai di Sya’ban. Karenanya, agar terhindar dari sifat lalai tersebut, Rasulullah teramat menganjurkan umatnya untuk tetap menjaga amalan-amalan di Sya’ban, terkhusus amalan puasa.

    ’’Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai, yaitu di antara Rajab dan Ramadan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan’’. (HR. An-Nasa’i, Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan).

    Dari Aisyah RA, beliau mengatakan, ’’Rasulullah SAW biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah SAW berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Syaban’’. (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156).

    Untuk mengoptimalkan saat-saat fenomenal bersama Sang Kekasih itulah, ia sudah bersolek mempersiapkan segala-galanya dengan harapan semua fadhilah yang ada di dalamnya bisa di tangguk secara menyeluruh. Oleh karena itu, Rasulullah mengajak kita, umatnya untuk melakukan warming up di dua bulan yang juga tidak kalah pentingnya, yakni bulan Rajab dan Sya'ban. Dalam hadis di atas, beliau memohon kepada Allah seraya mengajak umatnya untuk diberikan keberkahan yang optimal dengan melakukan pelatihan amal saleh dalam dua bulan itu. 

    Bentuknya pun bermacam-macam. Seperti membayar utang shaum bagi yang pernah uzur meninggalkan shaumnya pada Ramadan yang lalu, mempersiapkan tilawah Alqurannya bagi yang masih gagap dan kurang lancar. Sudah barang tentu setiap muslim yang merindukan taqorrub di Ramadan kelak, sedari sekarang sudah mempersiapkan tilawah hariannya. Tahsin, tafhim, dan tadabbur pun tidak luput dari perhatiannya. Ini sangat penting. Mana mungkin kita meneriakkan hadis di atas lantas diri kita kurang memberikan perhatian kepada Alquran yang merupakan amalan utama di bulan mulia itu! 

    Amalan saleh lain yang bisa kita persiapkan adalah shaum. Seperti shaum ayyamul bidh/hari-hari putih (3 hari setiap bulan pada 13, 14 dan 15 H), shaum Senin-Kamis, shaum nabi Daud (puasa selingan/satu hari puasa dan satu hari tidak), lalu berlatih infak, sedekah, serta zakat di Rajab dan Sya'ban.
    Inilah harapan besar kita setelah meminta permohonan diberkahi di Rajab dan Sya’ban. Kita meminta dipertemukan dengan Ramadan untuk melakukan amal saleh  sebanyak-banyaknya, beribadah, dan tentunya lagi pahala yang ghairu mamnun (tanpa putus). 

    Jadi, sebelum ber-fastabiqul khoirot di bulan suci nanti, kita sudah ’’memulai’’ suasana Ramadan terlebih dahulu sebagai semua pelatihan untuk membiasakan diri, warming up, dan berbekal dengan beragam ibadah. Baik itu ibadah mahdoh, fisik, maliyyah, fikriyah, dan ijtima'iyyah. Begitu banyak yang harus didapatkan nanti. Sebagai muslim sejati yang tentu tidak akan menyia-siakannya, strategi melakukan amal saleh itu harus diketahui. Menurut fikih awlawiyyat; sebuah amalan itu akan terhitung lebih besar pahalanya daripada amalan yang lainnya apabila ia memenuhi tuntutan situasi dan kondisi. Misalnya, apabila kondisi Ramadan menuntut seseorang untuk berjihad, maka jihad adalah amalan utamanya, seperti di masa Rasulullah dahulu. Jika situasi dan kondisinya menuntut seseorang untuk membantu meringankan beban orang lain yang emergency, maka itulah amalan utamanya. Dan lain sebagainya. Namun, bukan berarti amalan yang sifatnya sosial itu justru mengendurkan perhatian kita kepada amalan yang sifatnya pribadi. Karena sangat mustahil diri kita bisa melakukan amalan sosial apabila kita tidak memiliki kekuatan ruhiyyah yang diperoleh dari dalam diri kita. Dan itu hanya dilakukan dengan cara men-charge ruhiyyah kita. 

    Insya Allah, dengan memahami tarhib Ramadan versi hadis di atas, kita bisa mengoptimalkan puasa dan melakukan amal saleh di bulan suci itu. Sehingga, amalan shaum di Ramadan menjadi mukaffirotun lizzunub (penghapus dosa-dosa) kita yang telah lalu. 

    Tidak usah lah kita seperti para sahabatnya yang memiliki ihtimam (perhatian) yang begitu besar untuk Ramadan dan ruhiyyah yang tinggi kepada Allah, dengan mempersiapkan diri 6 bulan sebelum Ramadan tiba dan menangis ketika Ramadan pergi. Tapi kita cukup mengamalkan hadis tarhib tersebut di atas untuk mempersiapkan diri. 

    Semoga kita bisa memanfaatkan Sya'ban ini sebagai proses pelatihan dan training kebaikan sampai menjelang bulan yang kita nanti-nantikan itu. Dengan perasaan bahwa Ramadan itu sudah dekat dengan kita sehingga menjadikan kita lebih dekat lagi kepada Allah. 

    Kalaupun takdir Allah ’’berkata lain’’ kepada diri kita, Insya Allah ajang pelatihan itu menjadi saksi bahwa kita benar-benar mencintai Ramadan dengan ibadah. Meski, akhirnya akan jadi pertemuan terakhir kita dengannya.  ’’Sampaikanlah kami (Ya Allah) ke bulan Ramadhan’’. Amin. Wallahu a'lam bishshowab.

Harmonisnya Keluarga

Written By Qassam Corporation on Sabtu, 07 Juli 2012 | 07.26

 
Harmonisnya Keluarga
Oleh
Abdullah, S.E
Ketua DPC PKS Teluk Betung Barat

Menikah dan berumah tanggah adalah fitrah, atau sunnatullah, juga merupakan kebutuhan biologis manusia yang akan menentukan keturunan. Keluarga adalah juga awal membentuk umat, bangsa dan negara. Jika menginginkan berdirinya sebuah Negara yang Robbani maka dimulai dari Keluarga yang Robbani pula. Sungguh agung ajaran Islam ketika berbicara tentang rumah tangga, juga dengan Al-Qur’an yang memberikan perhatian yang sangat besar tentang berumah tangga. Mulai dari sebelum menikah, proses menikahnya, dan paska menikah, Yang menarik lagi dari menikah adalah juga merupakan bagian dari ibadah kepada Allah SWT,  seperti dalam sabda Rasulullah SAW “Barang siapa yang telah menunaikan nikah berarti dia telah menunaikan separuh ajaran agama, maka hendaknya ia menyempurnakan sisanya dengan bertaqwa kepada Allah SWT”
Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an nul Karim surat Ar Rum ayat 21 : tentang tujuan menikah/berumah tangga :

Artinya :
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.


Ada  kiat-kiat yang harus dimiliki ketika ingin menjadikan keluarga kita keluarga yang islami :
1. Sebelum Nikah :
Calon suami ataupun istri haruslah bibit unggul, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Gen akan sangat berpengaruh pada anak keturunan.” Bibit unggul
suami istri didasarkan pada empat kriteria, yaitu : agama, rupa, harta dan tahta. Namun aspek agamalah yang paling menentukan, fadzfar bidzatid-diin taribat yadaka, (Kalau kalian pilih agamanya maka beruntunglah kalian).
2. Proses Nikahnya, yang harus sesuai dengan ajaran Islam
3. Setelah Nikah :
        a. Mulailah dengan berdo’a ketika akan melakukan hubungan biologis “Alloohumma jannibnasy-syaiton, wa jaanibisyaitoona maa rozaqtana” (Ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah syetan darianak yang akan Engkau anugerahkan kepada kami). Demikian juga pada saat kelahiran dengan adzan ditelinga kanan, iqomah di telinga kiri.Kemudian paska kelahiran dengan aqiqoh shadaqoh dan infak
b. Harus ada manajemen keluarga yang Qur’ani.
Suami bertindak sebagai pemimpin dalam rumah tangga dan bertanggung jawab secara moral dan materi. Lalu sang istri bertindak sebagai Ibu rumah tangga, harus loyal kepada suami, menjaga diri, harta dan martabat suami serta rahasia keluarga. Penuh dengan sifat keibuan dan kasih sayang kepada semua.
c. Allahlah Tujuan kita, Jika semua aktifitas kita tujukan untuk Allah semata insya      Allah bahagia itu akan kita capai.
d. Menjaga makanan dan minuman yang halal. Karena Rasulullah pernah bersabda: kullu lahmin nabata min haroomin fannaaru aula bihaa(setiap daging yang tumbuh dari makanan yang haram maka tempat yang pantas adalah di neraka).
e. Memerankan Bapak dan Ibu sebagai pendidik pertama dan utama, sekaligus sebagai teladandan idola anak dengan menjaga dan memelihara fitrah anak yang bertauhid dengan menanamkan aqidah syariah dn akhlak. Kemudian mendidik dan membiasakan shalat berjamaah di masjid. Selanjutnya menghiasi rumah dengan shalat dan bacaan Al-Qur’an, serta memotivasi untuk cinta kepada ilmu dan gemar membaca. Membiasakan berdoa, berinfak, bershodaqoh serta peduli kepada fakir miskin dan anak-anak yatim.Selanjutnya memilih lembaga pendidikan yng menjanjikan iman, ilmu dan amal.
g. Membiasakan dengan amal-amal sunnah (shalat sunnah rawatib, qabliyah maupun ba’diyah, shalat sunnah tahiyyatal masjid, shalat sunnah Dhuha, shalat malam maupun tahajjud, puasa sunnah Senin dan Kamis), serta berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada tetangga, hormat kepada tamu
h. Teguhlah dalam beramal soleh. Sosiologi muslim ibnu Khaldun berkata: al insanu madaniun bitoba’ (manusia adalah makhluk sosial). Islam memerntahkan segenap manusia untuk berjama’ah dan berlomba dalam berbuat kebaikan, karena orang tidak bisa berbuat sendirian,mereka satu sama lain harus bermitra dalam mencapai kebaikan bersama. Oleh karena itu, rumah tangga yang beruntung adalah rumah tangga yang paling banyak produktifitas kebaikannya. Kaya boleh asal produktif, boleh memiliki rumah banyak dan megah asalkan diniati sebagai sarana meraih berkah Allah SWT.

i.Saling menasehati.

“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
Sudah menjadi kewajiban dalam sebuah keluarga untuk saling mengingatkan, jangan karena seorang ayah adalah kepala keluarga lantas ia tidak mau untuk diingatkan, siapa saja mempunyai kewajiban untuk menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran, yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Dengan demikian rumah tangga yang beruntung adalah rumaha tangga yang setiap anggota rumah tangga, baik suami istri maupun anak bisa saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, sehingga keluarga yang Robbani, keluarga yang sakinah, mawaddah dan rohmah akan terwujud, semoga keluarga kitapun emikian adanya. Wallahu’alam.


-------   )I(   -------












Ekspansi Dakwah



Oleh      Syarif Hidayat, S.T.

Pada edisi buletin yang lalu telah sama-sama kita memahami tentang hakikat dan pentingnya menjaga spirit (semangat) kemenangan dakwah. Namun semangat kemenangan itu tidak akan pernah diraih tanpa adanya semangat untuk menyebarkan (ekspansi) dakwah kepada seluruh ummat.

Sebagai kader-kader dakwah yang telah dibina sekian waktu lamanya seyogyanya nilai-nilai esensial dalam dakwah ini mendarah daging dalam kehidupan kita. Karena kita tidak lagi memahami dakwah secara verbal yang menyampaikan nilai-nilai di dalam Al Qur`an, hadist dan sumber-sumber Islam lainnya hanya melalui pidato, ceramah, serta khutbah dllnya. Tapi jauh lebih universal dari itu. Bahwa dakwah adalah kehidupan kita. Mulai dari bangun tidur, sampai kita beranjak menuju peraduan tempat tidur kita lagi. Meliputi diri pribadi kita, pekerjaan, keluarga sampai dengan kehidupan sosial kita di tengah-tengah masyarakat. Karena begitulah Rasulullah Saw., keluarga, para sahabat dan masyarakat muslim ketika itu mencontohkan. Dengan kata lain usaha-usaha dakwah yang kita lakukan tidak terpaku kepada ajakan-ajakan verbal kepada Islam tapi jauh lebih luas, yaitu menjadi sosok panutan di tengah-tengah masyarakat.
Berdakwah bagi kita sebagai kader adalah bagian hidup yang tak mungkin ditinggalkan. Bahwa dakwah telah menjadi belahan jiwa (soulmate) kita semenjak kita mengikrarkan diri bersamanya. Sehingga ketika kita menjauh dan mulai melupakan kegiatan-kegiatan dan individu-individunya, pastikan kehampaan dan kekosongan mulai mendekati kita.
Selanjutnya di samping usaha menjaga kenyamanan kehidupan sosial kita ketika tetap konsisten berada dalam gerbong dakwah, kita juga dituntut untuk menambah individu-individu baru sebagai tambahan energi dalam dakwah ini. Salah satu cara yang bisa dipakai adalah memperluas wilayah kenyamanan kehidupan social dakwah kita.
Betapa semangat memperluas wilayah kenyamanan kita begitu kental dalam dakwah ini. Bahwa kita senantiasa dianjurkan untuk bisa mengajak orang lain menikmati keindahan Islam bersama kita. Dan untuk hal ini kita dituntut bisa menembus zona-zona tidak nyaman bagi kita. Dan sebagian kader-kader dakwah sukses menjalankan misi ini. Betapa banyak orang-orang yang sebelumnya larut dengan hingar bingar duniawi, masuk dan nyaman berada di tengah-tengah kita. Mulai dari artis, politisi, pengusaha sampai raja copet sekali pun takluk karena kelembutan dakwah Islam kita.
Dalam melakoni hal ini tak begitu banyak kader dakwah kita sukses menjalani. Dan hal itu berpulang kepada situasi dan kondisi masing-masing kader. Pun demikian keterampilan memperluas wilayah kenyamanan sosial ini sejatinya terus ditumbuhkan di setiap diri kader. Bahwa setiap kita perlu diberi stimulan yang cukup untuk memperluas wilayah pergaulan.
Memperluas dalam arti yang postif. Carilah teman-teman baru sebanyak-banyaknya, karena dengan demikian akan memperlebar usaha berdakwah kita. Untuk selanjutkan akan memperbesar peluang kita untuk terus menambah tenaga-tenaga baru untuk menyebarkan dakwah kita yang mulia ini.
Dan apa balasannya? Syurga Allah Swt. yang begitu indah Insya Allah. Maka tetap jaga semangat dan keikhlasan kita. Wallahu`alam Bishawab.

GERAKAN KELUARGA BERKUALITAS

Written By Qassam Corporation on Jumat, 06 Juli 2012 | 19.02




















Oleh


Dewina, S.E


(Ketua Bidang Wanita DPD PKS Bandar Lampung)






Sebuah keluarga adalah sebuah rumah, bukan hanya berarti fisik , yaitu menjadi pelindung dari panas dan hujan. Tetapi, keluarga juga adalah sebuah tempat yang didalamnya dirajut ikatan kimiawi cinta yang kian bersenyawa seiring dengan bertambahnya waktu untuk saling sefaham, saling toleransi, serta saling menyemangati guna selalu menumbuhsuburkan wadah itu dengan berbagai unsur penyejuk jiwa.


Rumah itu didasarkan pada empat dinding dan atap yang merangkul seluruh penghuninya. Keempat hal itu adalah iman sebagai sumber energinya; cinta sebagai perekatnya; ilmu adalah pelitanya; dan keterampilan berumah tangga menjadi penyemaraknya. Hanya dengan cinta yang bersumber dari ruh imani, tautan hati setiap anggota keluarga akan terjalin dengan langgeng dan harmonis. Namun, keharmonisan bukan semata-mata buah dari sintesa ruhi nan abstrak, tetapi keharmonisan perlu kerja kasat mata, seperti mengelola dan meningkatkan kapasitas keuangan keluarga, merawat-mengasuh anak, menata rumah, memasak panganan sehat, dan lainnya. Oleh karena itulah, dibutuhkan ilmu mengenai keluarga dan kepandaian mengolah keterampilan menjadi sebuah karya rumah tangga.


Layaknya sebuah dinamika, ada waktu pasang, ada saat surut. Ada masa jaya, ada saat-saat sulit yang juga menyapa. Sejak pasca reformasi, ada fakta-fakta tentang kualitas keluarga Indonesia yang harus diantisipasi. Data-data dari Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, Mahkamah Agung Republik Indonesia, dan sumber lain menyatakan bahwa angka perceraian di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Hingga di tahun 2010 mencapai 10%. Dari 2 juta pernikahan yang terjadi, ada lebih dari 280 ribu pernikahan yang bercerai. Angka itu, tertinggi selama lima tahun terakhir. Lebih lanjut, dari 70% perceraian yang terjadi, gugat cerai dilakukan oleh istri, dengan alasan utama suami tidak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.


Berdasar fakta diatas perlulah disadari bahwa keluarga bukan semata-mata perkara pribadi. Namun juga harus dipikirkan bersama dan difasilitasi perlindungan serta peningkatan kualitasnya oleh negara. Sayangnya, hingga hari ini, Indonesia belum memunculkan persoalan keluarga sebagai persoalan yang penting.Padahal, negara sekuler, seperti Jerman, telah menjadikan persoalan keluarga sebagai persoalan penting, setara dengan persoalan remaja, perempuan, dan penduduk lanjut usia, yang dikelola dalam sebuah kementerian.


Sebagai upaya nyata untuk membetuk keluarga Indonesia berkulitas maka digulirkanlah program Rumah Keluarga Indonesia (RKI). RKI merupakan Pusat Kegiatan Pengokohan Keluarga Berbasis Masyarakat oleh Bidang Perempuan PKS dari tingkat DPP sampai tingkat DPC. Melalui RKI, Bidang Perempuan PKS ingin mendorong terbentuknya keluarga-keluarga yang kokoh dan harmonis dengan memberikan pengetahuan dan keterampilan pada keluarga Indonesia.


Dalam RKI berbagai variasi kegiatan digelar, seperti kegiatan konsultasi keluarga, pembekalan pranikah, pelatihan skill rumah tangga (memasak, merawat bayi, gizi, laktasi, manajeman keuangan rumah tangga, menata ruang, kesehatan, dan kebugaran), , pelatihan tanggap bencana untuk keluarga, pelatihan P3K, dan pelatihan sahabat anak, dll.


Gerakan Keluarga Bekualitas melalui program RKI ini juga bermakna penghargaan diri kita terhadap jati diri bangsa. Nyata bagi kita bahwa tiada kejayaan bangsa tanpa sumbangan keharmonisan keluarga. Gerakan Keluarga berkualitas adalah titik balik sekaligus titik ungkit untuk melejitkan Indonesia ke tataran pemuka dunia, Insya Allah.


(sumber : RKI, Dr Subagus MPA. Buku kerja bidpuan PKS)


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | PKS PIYUNGAN
Copyright © 2011. PKS-BANDAR LAMPUNG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger