Home » » Doa Rabithah: Doa di Sepanjang Mihwar Dakwah

Doa Rabithah: Doa di Sepanjang Mihwar Dakwah

Written By Qassam Corporation on Rabu, 07 Desember 2011 | 19.32

Siang tadi (Sabtu 3 Desember 2011), saya mengikuti acara Tatsqif Kader Dakwah di Markaz
Dakwah Gambiran, Yogyakarta. Ustadz Tulus Musthafa menyampaikan tausiyah yang sangat
mengena. Penjagaan terhadap kader pada era dakwah di ranah publik harus semakin dikuatkan.
Sarananya, kata beliau, telah terangkum dalam Doa Rabithah yang rutin kita baca setiap pagi
dan petang.

Sembari mengikuti tausiyah beliau, ingatan saya menerawang jauh ke belakang.....

Suatu masa, di era 1980-an.....

Tigapuluh tahun yang lalu, beberapa orang aktivis dakwah, tidak banyak, hanya beberapa orang
saja, duduk melingkar dalam sebuah majelis. Di ruangan yang sempit, diterangi lampu temaram,
duduk bersila di atas tikar tua, khusyu’, khidmat, tawadhu’.

Tidak banyak, hanya beberapa orang saja. Berbincang membelah kesunyian, pelan-pelan, tidak
berisik. Semua datang dengan berjalan kaki, naik sepeda tua, atau naik kendaraan umum saja.
Pakaian mereka sangat sederhana, apa adanya, bersahaja. Hati mereka sangat mulia.

Duapuluh tahun yang lalu, beberapa orang itu bercita-cita tentang kejayaan sebuah peradaban.
Cita-cita besar, mengubah keadaan, menciptakan peradaban mulia. Wajah mereka tampak teduh,
air wudhu telah membersihkan jiwa dan dada mereka. Tidak ada yang berbicara tentang fasilitas,
materi, jabatan dan kekuasaan.

Mengakhiri majelis, mereka menundukkan wajah. Tunduk dalam kekhusyukan, larut dalam
kehangatan persaudaraan, hanyut dalam samudera kecintaah. Doa Rabithah mereka lantunkan.
Syahdu, menusuk kalbu.

Air mata berlinang, bercucuran. Akankah segelintir orang ini akan bisa mengubah keadaan ?
Akan beberapa orang ini akan mampu menciptakan perubahan ? Hanya Allah yang mengetahui
jawaban semua pertanyaan. Doa telah dimunajatkan, dari hati yang paling dalam :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam

cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-
Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-
jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal
kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di
jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.

Sejuk, menyusup sampai ke tulang, mengalir dalam darah. Meresap hingga ke sumsum dan
seluruh sendi-sendi tubuh. Merekapun berdiri, berangkulan, bersalaman dengan erat. Masing-
masing meninggalkan ruangan. Satu per satu. Hening, tenang. Tidak ada kegaduhan dan
kebisingan.

Masa bergerak, ke era 1990-an

Sekumpulan aktivis dakwah, cukup banyak jumlahnya, berkumpul dalam sebuah ruangan yang
cukup luas. Ruang itu milik sebuah Yayasan, yang disewa untuk kantor dan tempat beraktivitas.
Mampu menampung hingga seratus orang. Semua duduk lesehan, di atas karpet. Lampu cukup
terang untuk memberikan kecerahan ruang.

Sebuah Daurah Tarqiyah dilakukan. Para muwajih silih berganti datang memberikan arahan.
Taujih para masyayikh di seputar urgensi bersosialisasi ke tengah kehidupan masyarakat,
berinteraksi dengan tokoh-tokoh publik, memperluas jaringan kemasyarakatan dengan
pendekatan personal dan kelembagaan. Semua aktivis diarahkan untuk membuka diri dan
berkiprah secara luas di tengah masyarakat. Membangun jaringan sosial dan membentuk
ketokohan sosial.

Sekumpulan aktivis dakwah, jumlahnya cukup banyak, datang dengan mengendarai sepeda
motor, beberapa tampak mengendarai mobil Carry dan Kijang tua. Wajah mereka bersih,
bersinar. Penampilan mereka tampak intelek, namun bersahaja. Sebagian berbaju batik, sebagian
lainnya berpenampilan rapi dengan setelan kemeja dan celana yang serasi.

Acara berlangsung khidmat dan sederhana. Namun sangat sarat muatan makna. Sebuah
keyakinan semakin terhujamkan dalam jiwa, bahwa kemenangan dekat waktunya. Kader dakwah
terus bertambah, aktivitas dakwah semakin melimpah ruah. Semua optimis dengan
perkembangan dakwah.

Usai acara ditutup dengan doa. Hati mereka khusyu’, jiwa mereka tawadhu’. Sekumpulan aktivis
dakwah, cukup banyak jumlah mereka, menengadahkan tangan, sepenuh harapan dan keyakinan.
Munajat sepenuh kesadaran :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam
cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-
Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-
jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal
kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di
jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.
Mereka berdiri, berangkulan, bersalaman dengan erat dan hangat. Hati mereka tulus, bekerja di
jalan kebenaran, pasti Allah akan memberikan jalan kemudahan. Doa Rabithah mengikat hati-
hati mereka, semakin kuat, semakin erat.

Perlahan mereka meninggalkan ruangan, menuju tempat beraktivitas masing-masing. Khidmat,
hening, namun tetap terpancar wajah yang cerah dan harapan yang terang benderang.

Masa terus mengalir, sampai ke era 2000-an....

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka cukup banyak. Memenuhi ruangan ber-AC,
sebuah gedung pertemuan yang disewa untuk kegiatan. Diterangi lampu terang benderang,
dengan sound system yang memadai, dan tata ruang yang tampak formal namun indah. Tampak
bendera berkibar dimana-mana, dan sejumlah spanduk ucapan selamat datang kepada peserta
dipasang indah di berbagai ruas jalan hingga memasuki ruangan.

Sebuah kegiatan koordinasi digelar untuk mempersiapkan perhelatan politik tingkat nasional.
Para aktivis datang dengan sepeda motor dan mobil-mobil yang tampak memadati tempat parkir.
Mereka hadir dengan mengenakan kostum yang seragam, bertuliskan kalimat dan bergambarkan
lambang partai. Di depan ruang, tampak beberapa aktivis berseragam khas, menjaga keamanan
acara.

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka cukup banyak. Mereka duduk berkursi, tampak
rapi. Pakaian mereka formal dan bersih, sebagian tampak mengenakan jas dan dasi, bersepatu

hitam mengkilap. Sebagian datang dengan protokoler, karena konsekuensi sebagai pejabat
publik. Ada pengawal, ada ajudan, ada sopir, dan mobil dinas.

Para qiyadah hadir memberikan arahan dan taklimat, sesekali waktu disambut gegap gempita
pekik takbir membahana. Rencana Strategis (Renstra) dicanangkan, program kerja digariskan,
rancangan kegiatan telah diputuskan, para kader siap melaksanakan seluruh keputusan. Acara
berlangsung meriah, diselingi hiburan grup nasyid yang tampil dengan penuh semangat.

Acara selesai, diakhiri dengan doa. Seorang petugas maju ke mimbar, memimpin doa, munajat
kepada Allah dengan kerendahan hati dan sepenuh keyakinan akan dikabulkan. Doa pun
diumandangkan :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam
cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-
Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-
jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal
kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di
jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.

Acara resmi ditutup. Para aktivis berdiri, berjabat tangan, meninggalkan ruangan dengan
khidmat. Terdengar kebisingan suara sepeda motor dan mobil yang mesinnya dihidupkan.
Sepeninggal mereka, tampak panitia sibuk membereskan ruangan.

Masa cepat bergulir, hingga di era 2010-an.....

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka sangat banyak. Harus menyediakan ruangan
yang sangat besar untuk menampung jumlah tersebut. Ruang kantor Yayasan sudah tidak bisa
menampung, ruang pertemuan yang sepuluh tahun lalu digunakan, sekarang sudah tampak
terlampau kecil. Harus menyewa gedung pertemuan yang memiliki hall besar agar menampung
antusias para aktivis dari berbagai daerah untuk datang.

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka sangat banyak. Mereka datang naik pesawat,
berasal dari Aceh hingga Papua. Berseragam rapi, semua mengenakan atribut dan jas
berlambang partai. Peserta yang datang dari wilayah setempat datang dengan mobil atau taksi.

Semua tampak rapi dan bersih.

Ruangan yang besar itu penuh diisi para aktivis dakwah yang datang dari seluruh pelosok
wilayah. Dakwah telah tersebar hingga ke seluruh penjuru tanah air. Sebagian telah menempati
posisi strategis sebagai pejabat pemerintahan, baik di pusat maupun daerah, baik di eksekutif
maupun legislatif. Hadir dengan sepenuh keyakinan dan harapan akan adanya perubahan menuju
pencerahan.

Berbagai problem dan persoalan diutarakan. Berbagai ketidakpuasan disampaikan. Banyak kritik
dilontarkan. Banyak saran dan masukan diungkapkan. Semua berbicara, mengevaluasi diri,
mengaca kelemahan dan kekurangan, memetakan arah tujuan, namun tetap dalam bingkai
kecintaan dan kasih sayang. Para aktivis sadar bahwa masih sangat banyak kekurangan dan
kelemahan yang harus terus menerus diperbaiki dan dikuatkan. Semua bertekad untuk terus
berusaha menyempurnakan.

Sang Qiyadah memberikan taujih dengan sepenuh kehadiran jiwa, “Nabi telah berpesan, bahwa
sesungguhnya kalian dimenangkan karena orang-orang lemah di antara kalian. Maka tugas kita
adalah selalu memberikan perhatian terhadap masyarakat, terlebih lagi kelompok dhuafa.
Termasuk dhuafa di antara kader dakwah. Jangan pernah melupakan kerja para kader yang telah
berjuang di pelosok-pelosok daerah. Lantaran kerja merekalah kita diberikan kemenangan oleh
Allah”.

Lugas, tuntas. Arahan telah sangat jelas. Acara pun berakhir, ditutup dengan doa. Seorang
petugas maju ke mimbar, mengajak semua peserta menghadirkan hati dan jiwa, dengan khusyu’
munajat kepadaNya agar senantiasa diberikan pertolongan dan kekuatan. Doapun dilantunkan :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam
cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-
Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-
jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal
kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di
jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.

Ternyata, doa Rabithah telah menghiasi perjalanan panjang kami. Bergerak melintasi zaman,

dengan beragam tantangan, dengan aneka persoalan. Para aktivis selalu setia dengan arah tujuan,
bergerak pasti menuju ridha Ilahi. Doa Rabithah tidak pernah lupa dimunajatkan, di waktu pagi
dan malam hari.

Kesetiaan telah teruji pada garis waktu yang terus bergerak. Lintasan mihwar membawa para
aktivis menuju kesadaran, bahwa kejayaan adalah keniscayaan, selama isi Doa Rabithah
diamalkan, bukan sekedar diucapkan.....

Kabulkan permohonan kami, Ya Allah....
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | PKS PIYUNGAN
Copyright © 2011. PKS-BANDAR LAMPUNG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger